Shhhooorrrt!

Processed with VSCO with h3 preset

I don’t know if this post really deserve to be posted, but whatever I’ll post it anyway. I am just too excited that finally I got the gut to cut my hair real short! And of course I took lots and lots of picture of ma face haha. Just enjoy my narcissism babe :*

 

Have a great day!

Xx, Wulan

sign2

Advertisements

The Rest of Yogyakarta

1488867161310

I know, I know.. I take way too much time to write about my trip to Yogyakarta last year. At first I want to make it like a sequel, day per day post. But.. yea… Pardon me. I am trying to be good at blogging still :p

So.

I already told you about the first day. The next three day we went to beaches at Gunung Kidul, Taman Sari Watercastle, Ratu Boko and Prambanan temples, licking some Gellato at  Oh My Gelato, Upside Down World, Beringharjo Traditional Market, etc.

Gunung Kidul

There are beaches at Gunung Kidul. We only went to Siung and Wediombo Beach. Both are rocky but still beautiful. It took 2-3 hours from our hostel to Gunung Kidul by car.

Wediombo Beach1488863986881148886401039014888631626571471194442600148886409556014888641393201488863735678

Siung Beach

IMG_20160814_150517IMG_20160814_15170814888641487791488864270740148886427605814888642867001488863913480

Taman Sari, Ratu Boko & Prambanan

The next day is historical places day! First we went to Taman Sari Watercastle then we bought a round-up ticket for Ratu Boko and Prambanan for cheaper price (about Rp 50.000). Baby and Ivan had to go back to Jakarta because of work, so there were three of us left 😦

Taman Sari WatercastleIMG_20160815_100734IMG_20160815_114759IMG_20160815_114744IMG_20160815_11373614888673007811488867188999IMG_20160815_121138IMG_20160815_115957IMG_20160815_121736IMG_20160815_121857148886728439514888671814831488867173445

Prambanan TemplePANO_20160815_142632PANO_20160815_143118IMG_20160815_145929IMG_20160815_143942IMG_20160815_143826

Ratu Boko Temple

We spent the rest of the day at Ratu Boko and watched the sunset on the top of a temple.PANO_20160815_1602321488867161310IMG_20160815_161039IMG_20160815_160352147126453138614712645460841488867151371147126348546314712646031831488867157642

FINALLY THE LAST DAY!

We went to a Gellato place, had fun at Upside Down World, and at last bought some gifts for family and friends at Beringharjo and Malioboro market.

IMG_20160816_122147IMG_20160816_121721IMG_20160816_122315IMG_20160816_12190014713350261431471335036774IMG_20160816_164443IMG_20160816_162742IMG_20160816_164427IMG_20160816_163234IMG_20160816_163544

I dedicated this post to my Jogja Bound fellas Tita, Baby, Ivan and Luthfan. Thank you for the (super fun) trip! Looking forward for the next adventure together!!

 

Xx, Wulan

sign2

DEMURE

moodboard-vol

Sebelum post ini, saya sudah pernah bercerita sedikit kalau saya bersama salah satu sahabat dari semasa kuliah saya, Dinda, sedang menekuni projek kami berdua yakni line aksesoris yang saat ini masih fokus pada desain kalung buatan tangan dengan elemen kayu sebagai aksen utamanya.

Lahir dari kegundah-gulanaan (hayaah) kami berdua ingin menuangkan kesukaan kami pada aksesoris khususnya kalung dengan desain yang ‘kami banget’.  Cerita dari awal ya. Dulu pas lagi jamannya kuliah, Dinda beberapa kali menginap di kosan saya. Dengan niat ada temen begadang dan teman mengeluh saat mengerjakan tugas kuliah arsitektur yang bagi saya sungguhlah ‘menyiksa’ kalau bekerja sendirian (walau tugas individu) karena menerka-nerka teman yang lain sudah sampai sejauh apa atau berapa banyak output yang sudah mereka siapkan. Suatu malam (atau pagi buta saya lupa) Dinda mengajak saya kalau lulus nanti bikin usaha sendiri bikin kalung yang ‘beda’ desainnnya. Saya ‘ayo’-kan dan kami sedikit berkhayal seperti apa konsepnya.

Waktu berjalan. Kami lulus sarjana Arsitektur. Saya bekerja di konsultan landscape, Dinda melanjutkan profesi arsitek. Di tengah kesibukan kami, pertanyaan dan ajakan untuk bikin usaha sendiri itupun muncul kembali. Tapi kali ini saya benar-benar ingin mewujudkan, bukan sekedar konsep dan obrolan. Akhirnya di awal bulan Maret 2016, saya dan Dinda janjian ketemu dengan schedule menggodok ide dan konsep awal seperti apa yang kami berdua mau.

Ketika mengungkapkan ide masing-masing ternyata yang ada di dalam otak kami nyaris sama! Jadi untuk ide dan konsep kami tidak butuh waktu lama untuk menyamakan suara. Banyakan rumpi-nya sepertinya di pertemuan pertama haha. Saking cepatnya di hari pertama pertemuan itu juga kami langsung mencari nama yang akan kami gunakan sebagai ‘muka’ brand kita nanti, logonya, membuat e-mail, moodboard, pokoknya apapun yang bisa dicicil kami cicil.

Nama DEMURE diambil karena artinya yang menggambarkan sifat kalem dan tidak ‘sombong’. Kami memandang seperti itulah sifat kayu. Kayu jika dilihat sangatlah sederhana, hampir ada dimana saja. Alami, berbeda dengan material modern yang sekarang makin beragam. Tapi dalam sederhananya tampilan kayu, fungsi dan gunanya sangat banyak dan beragam. Dari hal yang kecil sampai kebutuhan yang besar. Intinya kami melihat kayu sebagai material multifungsi, sederhana, yang akan terlihat ‘wow’ dengan sendirinya jika di olah dengan baik.

Selang beberapa minggu kami bertemu lagi untuk mendesain. Dari pagi menuju siang hingga hari mulai gelap kami habiskan untuk menuangkan masing-masing ide dalam desain. Pada koleksi awal ini, bentuk desain kami tidak berangkat dari filosofi tertentu. Kami mencoba bermain komposisi bentuk geometri persegi dan komposisi warna dari palet yang sudah kami tentukan sebelumnya. Saling memberi masukan desain satu dan lainnya sambil juga mengira-ngira bagaimana membuatnya, dimensinya, dan lain sebagainya. Sampai akhirnya menghasilkan 7 desain awal.

all
(Minus BRANCHES)

Next! Setelah kami recap bentuk-bentuk modul yang dibutuhkan dalam pembuatan kalung, kami mulai kulik workshop kayu yang kira-kira mau menerima custom potongan kayu yang relatif kecil-kecil. Awalnya saya kira mudah, pasti tukang kayu/furnitur manapun bisa. Salah. Justru karena produksi awal kami masih sedikit dan potongannya kecil-kecil beberapa menolak. Sampai akhirnya kami mendatangi satu-satu workshop kayu di daerah Kemang Timur. Bertemu lah dengan salah satu workshop yang menyanggupi. Namun tetap, harga yang diajukan relatif mahal karena produksi kami hanya sedikit. Saya dan Dinda berpikir untuk koleksi pertama ini tidak apa-apa kami coba dulu saja. Siapa tau seiring berjalannya waktu nanti kami bisa menemukan workshop atau solusi lain untuk produksi kayunya.

And here is our very first collection called ‘SPRING’ ;D

This slideshow requires JavaScript.

Xx, Wulan

sign2

 

THE MAGIC OF ABRAKADABRA!

img_20160816_093942

I told you I am going to tell you about Abrakadabra! the hostel I stayed in when I was in Yogyakarta. Well, so sorry it takes too long (I got so much distraction or just got distracted easily..) get ready to feel the magic of it! :p

Abrakadabra! is located in Jalan Minggiran Baru no. 19 Mantrijeron Yogyakarta. In your first step inside Abrakadabra! you’ll know that the host is an art enthusiast. There are art works like everywhere. At the front gate, the walls, the pool, everywhere. That’s also why I chose the hostel, I do love art! Me and my friends was welcomed by Jali, Leony, and Ando. They are very humble and friendly.

Abrakadabra! has some room with different themes. Jungle, Beach, Graffity, Junkyard, and a dorm room. Each room (except the dorm room) is fit for two people. So I had to bring an extra folded bed cause I stayed with my two friends. I booked their Junkyard themed room via Airbnb. Looooove the room with its design and every little things they put in the room. Really, they put some simple efforts to get the ‘Junkyard’ feel.

1471188326300

img_20160816_104927pano_20160816_104932img_20160816_090527img_20160816_090544img_20160816_090602img_20160814_070748img_20160814_085709img_20160814_090249img_20160814_090930

At the backyard they have a mini pool with a graffity walls, a hammock,  and a hangout corner. It is a cozy space to spend times with your friends or another guests there especially in the evening. There also a kitchen you can use next to the hangout corner. So if you (or your stomach) need anything, it is literally just a step (well maybe two or three) away!

1471141922808yogyakarta-day1-7

Every morning the hosts will offer you a breakfast before you go exploring Yogyakarta. At the first morning we had a mini Tumpeng. Tasted really good!

At the last day we met Anez, also one of the host. He greeted us and we also had a little chat. And there I knew that he did all of the mural and graffity works there! I always admire people who can create artworks. Any artworks. So It really a good time to met and had a small talk with him.

Well pictures always tells more than words. So I hope you also enjoy the pictures 🙂

img_20160816_103533img_20160816_103625

img_20160816_093442img_20160816_093605

 

Xx, Wulan

sign2

FASCINATING YOGYAKARTA : DAY 1

 

yogyakarta-day1-1

FINALLY!

Setelah sekian lama saya mengidam-idamkan trip ke Yogyakarta, akhirnya di tahun 2016 ini kesampaian. Bermodalkan :

“Eh, Jogja yuk”

“Ayo, kapan”

“Agustus?”

“Cari tanggal!”

Akhirnya saya benar-benar sampai di Yogyakarta di tengah bulan Agustus. Trip direncanakan memang melewati Senin dan Selasa sehingga saya, Tita, dan Luthfan harus mengambil cuti. Jadi trip kami dimulai dari hari Sabtu, 13 Agustus 2016 dini hari sampai Selasa, 16 Agustus 2016. Tita & Luthfan memang personil awal trip ini, sampai akhirnya di menit terakhir Baby dan Ivan juga nimbrung walaupun mereka hari Senin, 15 Agustus 2016 pagi harus terbang duluan kembali ke Jakarta karena tidak dapat jatah cuti, too bad 😦

Kami berangkat tidak naik kereta atau pesawat. We chose this trip to be a fun road trip (walaupun kebanyakan sih diisi dengan tidur) but it was really a fun experience for me to go on a trip, a little bit far away from home with good friends by car. Untuk urusan patungan, kita sepakat seorang mengeluarkan Rp 325.000 (kecuali Baby & Ivan patungan lebih sedikit karena mereka tidak ikut perjalanan pulang). Uang tersebut untuk keperluan bensin dan tol.

Perjalanan kami dimulai sekitar pukul 00.00 Sabtu, 13 Agustus 2016. Sempat macet di tol Cikampek karena adanya galian. Berhenti di rest area untuk istirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan sampai kurang lebih menghabiskan total 18 jam perjalanan (kami sempat mampir di Magelang karena ada titipan ibunya Tita). Ohya, kami melewati jalur Utara dalam perjalanan pergi ini, melewati Semarang, Magelang, lalu Yogyakarta.

yogyakarta-day1-8

yogyakarta-day1-2
We-fie at the rest area (pardon our sleepy-tired faces)

 

Sebelumnya kami sudah booking kamar di hostel bernama Abrakadabra melalui situs Airbnb, beralamatkan di Jl. Minggiran Baru no. 19 Yogyakarta. It really is a cool place to stay. I love the place, the people, the food, everything! Saya akan menulis post tersendiri untuk mengajak kalian sedikit melihat Abrakadabra. You will love the place the way I do! Sedangkan Baby & Ivan book hostel yang jaraknya sangat dekat dengan Abrakadabra (jalan kurang dari semenit) bernama Kalikala yang juga mempunyai konsep yang unik. Jadi setiap harinya kami sangat mudah untuk janjian bertemu sebelum berangkat 😉

yogyakarta-day1-7
A little peek of Abrakadabra

Hari pertama belum banyak diisi kesana-kesini karena kami pun masih merenggangkan badan dari panjangnya perjalanan. Kami sampai di waktu Maghrib, mandi  & leyeh-leyeh sebentar lalu menuju ke destinasi pertama yaitu Monumen Jogja Kembali atau biasa dikenal dengan Monjali. Saya juga baru tahu tempat ini di akhir pertemuan saat menentukan destinasi. Intinya kalau di malam hari adalah sebagai Taman Lampion, tempat dimana banyak instalasi lampu-lampu dengan bentuk yang bermacam-macam. Ditengahnya terdapat bangunan Monumen.

yogyakarta-day1-6

(Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Monument_Yogya_Kembali)

Untuk mengenang peristiwa sejarah perjuangan bangsa, pada tanggal 29 Juni 1985 dibangun Monumen Yogya Kembali (Monjali)…Monumen yang terletak di Dusun Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kapubaten Sleman ini berbentuk gunung, yang menjadi perlambang kesuburan juga mempunyai makna melestarikan budaya nenek moyang pra sejarah…Nama Monumen Yogya Kembali merupakan perlambang berfungsinya kembali Pemerintahan Republik Indonesia dan sebagai tetengger sejarah ditarik mundurnya tentara Belanda dari Ibukota Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 dan kembalinya Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan petinggi lainnya pada tanggal 6 Juli 1949 di Yogyakarta. (https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/pilgrimage-sites/monjali/)

Tiket masuknya seharga Rp 20.000 per orang (berlaku Jumat-Minggu/hari libur) plus parkir mobil kalau tidak salah Rp 5.000.

 

yogyakarta-day1-3yogyakarta-day1-5

Sehabis dari Monjali kami berencana makan malam di Gudeg Yu Djum, namun ternyata sudah tutup. Muter sana-sini hampir semua tempat makan sudah tutup (memang salahnya sudah malam juga). Berakhir makan malam di seafood tenda pinggir jalan (yang di Jakarta juga banyak haha) ditemani hujan deras. Yang penting perut kenyang lanjut istirahat untuk destinasi hari kedua yang adalah pantai-pantai di daerah Gunung Kidul.

What a tiring yet fun first day in Yogyakarta. Kesan pertama: Nggak ada macet, bahagia!

to be continue..

p.s. Dirgahayu Republik Indonesia ke 71!

Xx, Wulan

sign2

ARE YOU LIVING YOUR DREAM?

Processed with VSCOThe question pops in my head sometimes. Well, I am not really sure what is or are exactly my dream(s) in life yet. Kalau ditanya tentang living in my own dream entah kenapa yang terpikir oleh saya relasinya pasti ke dream job. Karena kalau melakukan apa yang kita suka sebagai sebuah pekerjaan rasanya seberat apapun ‘cobaan’ nya pasti masih bisa senyum sedikit lah yaa… Selain itu pasti juga akan berpengaruh ke aspek lain seperti lingkungan sekitar yang pastinya selaras dengan passion, waktu bekerja, dan sebagainya. Yang saya tahu dan yakini, saya tidak mau menjadi pegawai selamanya. Bahkan kalau bisa sebelum berkeluarga nantinya. Saya ingin suatu hari nanti punya usaha sendiri dibidang kreatif atau bisa dibilang menjadi seorang creativepreneur (yang sampai saat ini saya pun belum tau mau bidang kreatif apa). Tapi namanya mimpi kalau mau jadi kenyataan pasti harus ada titik mulanya kaan..

Nah, membuat aksesoris khususnya kalung menjadi hal yang tanpa sadar sering saya lakukan. Saya termasuk pecinta aksesoris. Tapi, kalau lagi jalan-jalan lihat aksesoris, saya berfikir berkali-kali untuk membeli. Yang terlintas selalu begini “harga segini kalau beli tali dan pernak-perniknya di Toko Maju, Mayestik udah bisa dapet macem-macem… modelnya juga bisa laah dibikin mirip-mirip”. Selalu. Kecuali untuk aksesoris yang kelihatannya agak sulit untuk dibuat tangan ya…

diahayu-living-your-dream-1
Some of my self-made necklaces

Sebagian besar koleksi kalung saya, buatan saya sendiri. Rasa bahagia sehabis selesai bikin satu kalung atau gelang nggak kalah sama kalau habis belanja di toko. Lebih happy malah, karena lebih hemat 😀 That’s why, I started to think to create a handmade accessories project with one of my uni bestfriend Dinda, who also loves necklaces.

Singkat cerita, setelah beberapa kali pertemuan, sekarang kami sedang mempersiapkan proses produksinya. Mungkin nanti saya akan menulis step by step susah-susahnya sampai akhirnya projek ini bisa jadi beneran (biasanya suka sampai konsep saja terus hilang…).

Sebenarnya ini baru langkah keciiiil sekali. Saya juga termasuk orang yang moody dalam mengerjakan sesuatu. Kadang kalau lagi mood bisa jor-jor an. Tapi kalau nggak, saya bisa mencari alasan apapun untuk tidak mengerjakannya dulu. That’s not good, but I’m  still working on it. Karena saya percaya, untuk membangun sebuah ‘nama’ brand, keseriusan, komitmen dan kestabilan kinerja sangat berpengaruh karena pasti akan kelihatan di hasilnya nanti 🙂

Here are a little spoiler from my upcoming project called Demure Wooden.

Xx, Wulan

sign2

 

WAVE(ING) OF HAPPINESS

I knew weaving since I worked as a creative intern in Living Loving. Mbak Nike, one of the founder of Living Loving love to do weaving. She also own an online shop called made by n that sell weaving loom and some of her works. I found weaving makes me happy, reduce some stress in me, especially when I use lovely color scheme of yarns ❤

Living Loving has a workshop event called Afternoon Delight and LLClass. And weaving class is one of them. I got my first mini loom there. If you want to try it, just follow their instagram or subscribe their newsletter to keep up with the workshop schedule.

diahayu-weaving-2
The mini loom I got on LL workshop
diahayu-weaving-1
Left : my very fist mini wall hanging; right : unfinished wall hanging bcs I’m just not too patient to see it done…

I’ve already done one (and half :p) woven wall hanging and working on the other one (when I feel bored I could finish one loom in forever hahaha).

And here are some woven wall hanging ideas I love ❤

 

Xx, Wulan

sign2

 

Wall hanging ideas sources :